jump to navigation

ketapang, kota kecil di kalbar yang sarat mafia illegal logging! May 1, 2008

Posted by franky in hutan&lingkungan.
3 comments

seminggu setelah saya kembali ke pangkuan ibu pertiwi-setelah menyelesaikan studi saya di negeri matahari terbit, saya mendengar berita di metro tv. berita menggembirakan, sekaligus memprihatinkan. 23 tersangka illegal logging di ketapang dibekuk pihak berwajib. langsung dari mabes polri dan tim dari dephut. bahkan menhut dan kapolri langsung datang ke lokasi. 6 diantaranya pegawai dinas kehutanan kabupaten ketapang, termasuk kepala dinasnya, juga 3 orang perwira polisi yang siap-siap diperiksa! menggembirakan? ya! memprihatinkan? juga ya! salut buat tim mabes polri yang bisa membekuk para tersangka illegal logging tersebut (walaupun, saya yakin sebetulnya masih banyak oknum-oknum yang terlibat tetapi masih dinaungi dewi fortuna). ini menunjukkan bahwa sudah betapa parahnya bisnis kayu haram berjalan dengan santainya, yang bahkan para pejabat pemerintahan pun turut berpartisipasi dalam penghancuran hutan tropis nya sendiri! ini yang memprihatinkan…malah ada rumor, pada saat datangnya tim menhut dan kapolri ke ketapang, hampir sebagian besar laptop-laptop milik pegawai dinas kehutanan kabupaten ketapang diformat ulang…hehehehe ada apa ini?? tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang! malahan, isunya ribuan dokumen yang dianggap sebagai barang bukti banyak yang dibakar dan dimusnahkan! aaah, apakah memang ini hanya rumor?? 🙂

lucunya, pagi hari nya kadishut kabupaten ketapang menjemput rombongan menhut dan kapolri, sorenya diantar langsung oleh pasukan detasemen 88 dengan beda status! ya, untuk lengkapnya, baca saja majalah Tempo edisi pertengahan April 2008. Betul seperti dugaan saya sejak dulu, menurut sumber di Majalah Tempo tersebut, kayu-kayu illegal tersebut biasanya akan dijual ke Sematan, Kuching.

Satu lagi, Vini Vidi Vici… 🙂

Advertisements

kuching, bersih tapi mahal?! May 1, 2008

Posted by franky in jalan-jalan.
add a comment

Kali ini, saya akan coba cerita mengenai Kuching-Sarawak, karena kebetulan saya diberi tugas untuk mengikuti International Conference- Towards Sustainable Land-use in Tropical Area yang diselenggarakan oleh ATBC (The Association for Tropical Biology and Conservation). Konferensi ini berlangsung dari tanggal 23-26 April 2008. Sebetulnya ini merupakan kali kedua saya menginjakkan ibukota Sarawak, Malaysia ini. Dan walaupun saya merupakan staf Ditjen PHKA Dephut, tapi dalam konferensi ini saya justru mewakili ‘almamater’ saya, alias University of Tsukuba, Japan karena sesuatu dan lain hal.

Sengaja saya mencapai Kuching via Pontianak dengan bus malam eksekutif-Rp. 140.000. Selain murah, juga tidak perlu bayar fiskal-Rp. 1 juta dan juga dokumen lainnya jika menggunakan paspor biru. Setelah urusan imigrasi, saya tiba di perbatasan Entikong-Tebedu pukul 5.00 pagi 23 April 2008. Kesan pertama, saya banyak tersenyum membaca information board yang tertempel di sekitar Jawatan Imigresen Tebedu tersebut. Sebagai contoh: “dilarang membuang puntung rokok merata-rata”, “tandas awam” untuk toilet umum, serta “tempat letak kereta” untuk parkir mobil. Hehehehe…walaupun sudah lama tinggal di Kalimantan Barat yang mayoritas berbahasa Melayu, masih saja terasa aneh.

Dari sejarahnya, memang kota Kuching berasal dari kata kucing, dan memang kabarnya dulu di kota ini banyak kucing. Silahkan di googling sendiri untuk urusan ini. Yang jelas, jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, Kuching jauh lebih bersih (atau karena penduduknya tidak terlalu banyak ya?). Dan untuk urusan pariwisata, sepertinya sudah selangkah lebih maju dibandingkan dengan Indonesia. Walaupun, fasilitas dan living-cost rasanya lebih mahal jika dibandingkan dengan Jakarta sekalipun! Keindahan kotanya?? biasa saja…malah justru kota-kota besar di Indonesia masih lebih modern dan berkelas untuk urusan bangunan, fasilitas, mall, dan lain2nya. Atau saya terlalu nasionalis, sehingga tidak terlalu berkesan dengan kunjungan saya ke Kuching. Yang jelas menang bersih dan tidak semrawut! Lain-lainnya biasa saja! Kapan orang Indonesia belajar untuk bisa lebih bersih, atau harus dikurangi dulu penduduknya ya? mengingat Kuching hanya berpenduduk sekitar setengah juta jiwa sementara luasnya 4.500an km persegi!

Mengenai international conference nya, berlangsung di hotel Hilton, dengan jumlah peserta 180, dengan materi oral presentasi diikuti oleh 130 orang dan presentasi poster diikuti 44 peserta, termasuk saya. Dan sebagian besar yang datang adalah researcher, baik graduate student, maupun para doktor dan profesor yang ahli di bidangnya. Kali ini seperti biasa, Jepang hadir dengan jumlah terbesar dan full team (aaah…Jepang memang selalu perfeksionis!), sebagian besar dari Kyoto University.

Poster saya sendiri bisa diliat disini. Dan pada malam terakhir, farewell dinner, begitu diumumkan, poster saya mendapat Best Award on Poster Paper. Surprise aja…dan, well…bukan apa-apa, walaupun saya mewakili University of Tsukuba, tetapi originally from Indonesiah. Banyak yang tidak mengira, karena walaupun dalam konferensi tersebut yang dibahas tentang tropical forest, tetapi hampir tidak ada orang Indonesia yang presentasi tentang riset atau publikasi ilmiah yang telah dicapainya. Aaah, sekali lagi saya kecewa sekaligus bangga! Kecewa, karena sebagian besar orang Indonesia hanya jago kandang-termasuk researcher nya, bangga karena saya mendapatkan penghargaan terbaik untuk sesi poster presentation. But, anyway, congrat! Tidak sia-sia saya begadang semaleman buat poster dan kasak kusuk ke Subur Printing atas rekomendasi seorang teman. Akhirnya…menang! Vini Vidi Vici! 🙂

akhirnya, saya berhasil mencapai TITIK itu… March 25, 2008

Posted by franky in coretan ngalor ngidul.
5 comments

Sebagian besar teman di tanah air seringkali membayangkan: waah betapa enaknya dapat beasiswa untuk melanjutkan studi dan hidup di luar negeri-apalagi di negara yang sudah developed. Serba canggih, serba enak, serba pasti, serba teratur, serba IT-oriented, dan serba yang bagus2 laah…Secara obyektif, YA! Tetapi apakah mereka menyadari juga, bahwa hidup di lingkungan yang asing bagi kita juga perlu perjuangan. Perjuangan mengerti bahasa & karakter huruf yang jumlahnya ribuan dan tidak mudah dihapal secara instan (kanji, pen), mengenali dan beradaptasi dengan situasi lingkungan, kesulitan mendapatkan fasilitas yang berhubungan dengan agama, adat budaya yang berbeda, makanan yang agak aneh rasanya di lidah, belum pola pikir orang-orang sekitar kita yang totally different. Betul. Semuanya perlu perjuangan. Khususnya perjuangan untuk menyelesaikan studi. Jadi secara jujur, saya akan menjawab bahwa memang hidup di negara maju itu enak, yang tidak enak adalah perjuangan dan menjalani proses belajarnya! Bukan apa2, maklum otak yang udah lemot, kelamaan bekerja di lapangan, usia yang ‘agak’ terlambat sehingga secara hardware, masih memakai otak yang belum pake teknologi dual-core.

Ingat ketika pertama kali datang ke Jepang untuk meneruskan studi dengan beasiswa dari JICA, pertama kali saat mengerjakan soal ujian masuk. Bagaimana sulitnya belajar Nihon-go, tinggal di JICA Center, harus pindah ke apartemen, kesepian karena jauh dari keluarga dan istri tercinta. Tak akan terlupakan juga betapa Japanese food terasa serba plain di awalnya dan selalu membayangkan betapa lezatnya masakan Indonesia. Rasa ragu selalu menerpa untuk bepergian kemana2, mengingat hampir semua informasi ditulis dalam karakter Kanji. Termasuk betapa kangennya mendengar suara adzan dan melihat mesjid. Belum urusan akademis yang semuanya juga disajikan dalam Bahasa Jepang, dari kuliah sampai sillabus! dari ngisi RKS sampai ke hand out kuliah…Dooh! Belum lagi harus selalu buat report dan tugas presentasi di lingkungan yang masih sangat asing. Sampai akhirnya harus menentukan rencana penelitian yang sangat menyita waktu. Dari proposal ke proposal, dari seminar ke seminar. Belum lagi harus belajar dari nol tentang Remote Sensing terus menuliskan hasil penelitan dalam sebuah thesis dengan Bahasa Inggris yang tentunya harus benar. Dooh, rasanya mau balik kanan grak! (thesis saya bisa didownload di sini)

Tapi semua perjuangan pasti akan membuahkan hasil. Dan, akhirnya hari ini saya menyelesaikannya. 25 Maret 2008. Shotsugyou omedetou gozaimasu!