jump to navigation

can microlight save our rainforest? January 12, 2008

Posted by franky in terbang.
1 comment so far


lama ngga posting, maklum ceritanya lagi berkutat dengan sebuah perjuangan untuk “masa depan”

eeh, ada sebuah artikel di majalah “LIGHT SPORT & ULTRALIGHT” edisi November 2007, terbitan amerika, yang memuat tentang cerita patroli dengan trike. Walaupun namaku salah terketik menjadi Franky Zazame. Kok bisa ya? Jika pengin baca, silahkan bisa klik disini. Foto ku juga muncul di website nya airborne australia di sini. ya, siapa tau jadi terkenal? wakakakak…

Advertisements

x-country by trike: pnk-ktp, 2 jam 15 menit August 22, 2007

Posted by franky in terbang.
Tags: , , , ,
6 comments

jika anda pernah melakukan perjalanan dari pontianak-ketapang, atau sebaliknya, itu bisa dicapai dalam 35 menit jika menggunakan pesawat jenis ATR (kal-star atau indonesia air transport), dengan fare sekitar 500 ribu rupiah. Atau jika ingin menghemat lagi, bisa dilakukan dengan menggunakan kapal cepat) yang memakan waktu sekitar 7 jam normal dengan biaya 165 ribu rupiah. Jika ingin menghemat lagi, bisa menggunakan jalan darat (yang disambung dengan kapal feri melalui sungai) yang memakan waktu sekitar 15 jam normal dengan biaya sekitar 100 ribu rupiah plus makan.

bagaimana jika ditempuh dengan menggunakan trike? sejenis pesawat glider yang mempunyai sayap flexwing dan dilengkapi engine 2 tax 582 cc 65 HP? yaa, sebuah tantangan memang, mengingat jalur tersebut banyak melalui hutan, rawa, dan laut dengan straight distance sejauh 189 km…tapi jika dihitung totalnya hampir sejauh 220 km! berdasarkan hitung2an fuel, kondisi engine, cuaca yang mendukung, dan beberapa checkpoint yang bisa dijadikan tempat untuk emergency landing, maka bersama hendra sebagai co-pilot nya, saya mencobanya…

setelah selesai melaksanakan tugas monitoring hotspot di wilayah rasau dsk, pontianak, selama 3 sortie penerbangan dari tanggal 9-11 agustus, saya memutuskan membawa pulang pk-s 142 dengan ferry flight, alias diterbangin! walaupun belum pernah seorang pun mencobanya, saya merasa yakin, jika jarak tersebut dapat ditempuh tanpa melakukan refuel…tentunya juga berharap Yang Di Atas selalu memberikan perlindungan dan keselamatan, mengingat kita tidak bisa 100 persen tergantung kepada engine!  the sky is wide, but no room for any mistakes! hebatnya, hujan turun sehari sebelumnya mengguyur panasnya kota pontianak, sekaligus memadamkan hotspot-hotspot sialan itu.

ya, pagi itu, cuaca sepertinya kurang bersahabat, mengingat sisa gerimis masih turun dan langit belum sepenuhnya clear. kemungkinannya 50-50! cuaca bisa bertambah jelek, atau justru menjadi bagus…tapi bulatnya keyakinan yang dikipasi dengan tantangan yang menghadang membuat niat untuk menerbangkan pesawat nyamuk ini makin membesar. waktu itu pukul 06.50 ketika request start engine. semuanya berjalan normal, radio dan alat navigasi portabel pun segera disiapkan, perkara jadi terbang atau tidak. jam 07.10 semuanya sudah siap, termasuk hendra-calon penumpang yang akan ikut ke ketapang, backpack berisi laptop dan baju kotor pun ikut menemani. petugas atc (air traffic controller) sudah memberikan perintah: “papa kilo siera one fourer two, report when ready for taxing” ketika tiba-tiba disambung dengan “hold on short!” gara-gara ada adam air dari jakarta yang akan landing, setelahnya disusul dengan batavia-air yang sudah line up di runway 15 siap-siap untuk take off. waaah…setelah menunggu backtracknya adam air ke apron, dilanjutkan take off nya batavia air yang hampir 20 menit, barulah dikasih clearence untuk line up runway 15. melalui frekwensi 118.300 saya laporkan: “papa kilo siera one fourer two, line up runway one five, ready for take off. born for ketapang altitude three thousands feet and below!” tepatnya, 07.35 pk-s 142 airborne

setelah 15 menit terbang, disuruh geser frekwensi ke pontianak approach di 119.000. ya, walaupun terbang dengan special vfr-visual flight rule, bukan seperti pesawat2 besar yang memakai ifr-instrument flight rule-yang semuanya serba otomatis, tetapi untuk masalah keamanan kita harus selalu komunikasi dengan pihak controller. sekitar 20 menit terbang, kita dihadang hujan! dengan berbekal doa, dan perhitungan sederhana melihat cuaca di depan, akhirnya diputuskan menerobos hujan! pertimbangannya jika ke kiri, cuaca memang menjanjikan di depan, tetapi harus menghadapi headwind yang menyebabkan pesawat menjadi pelan dan terlalu jauh lari dari track! sementara jika ke kanan, harus menghadapi hujan dan awan gelap, tetapi sedikit mendapat tailwind yang mampu membuat pesawat bertambah laju dan tetap di tracknya! dalam pikiran saya, biarlah terkena hujan asal bisa lebih kencang dan tetap mendekati tracknya…hampir 10 menit hujan menerpa pesawat yang terbuka itu, walhasil rintik2 air hujan pun menerpa sekujur tubuh dan juga kaca helm! (dalam bayangan saya, seperti naik motor aja…cuma bedanya ini motor ngga bisa berhenti dan parkir untuk mencari tempat berteduh!)

checkpoint pertama dilalui! batu ampar…lega rasanya, mengingat di kecamatan tersebut cukup banyak terlihat rumah dan perkampungan dan tentunya lapangan bola…minimal bisa menambah pede, karena siapa ngga ngeper terbang diantara mendung dan awan, sementara di bawahnya hanya hamparan hutan sekunder, hutan nipah, dan sungai berkelok2 yang tidak ada pilihan tempat emergency landing jika sewaktu2 terjadi hal2 yang tidak diinginkan…sekedar membuat sensasi, begitu overhead kecamatan batu ampar tersebut, saya keluarkan handphone dan sms ke kawan2 di pontianak dan bos yang sudah menunggu di ketapang…ya, sepertiga perjalanan telah dilalui!

checkpoint kedua (teluk batang) dilalui setelah kembali diterpa hujan gerimis. kembali dihadapkan kepada 2 pilihan…naik dan menerobos awan hujan, terbang di atasnya dan lolos dari hujan, atau turun dan terbang di bawahnya tetapi terkena hujan. akhirnya pilihan kedua lah yang dipilih, mengingat tebalnya awan hujan dan rasanya terlalu beresiko jika harus naik dan memutuskan masuk ke dalam awan! untungnya hujan kali ini tidak terlalu lama, hanya sekitar 5 menit saja. kembali saya keluarkan handphone dan sms posisi kami…kali ini saya hanya terbang dengan altitude 800 feet! setengah perjalanan telah dilalui…ya, tinggal 2 checkpoint yang tidak kalah susahnya untuk dilalui, karena harus melalui laut (selat karimata) jika ingin memperpendek jarak. walaupun kami berdua tidak jago berenang, dengan pedenya kita ambil pilihan shortcut tersebut dan terbang di atas laut! kali ini saya coba climb sampai 3000 feet! doa tak terlepas dari mulut saya, sementara hendra di belakang kelihatan tegang dan stress! tetapi yang jelas, kami merasa kedingingan!

checkpoint ketiga adalah sukadana, yang sekarang menjadi kabupaten kayong utara…gunung tambak rawang sudah di depan mata, masalahnya posisi kota kecil tersebut juga berada di teluk dan diapit oleh gunung palung yang menjulang dingin di sebelah kiri dan bukit-bukit kecil (jajaran gunung peramas) di sebelah kanannya, belum lagi awan2 rendah yang menggumpal di sekitarnya. kembali keputusan diambil untuk tetap terbang di atas laut, mengingat jika terbang menyusuri jalan dan perkampungan, efek turbulensi dari gunung palung cukup besar untuk mengaduk2 pesawat mungil ini! tidak sabar rasanya untuk mencapai checkpoint terakhir (pulau sempadi) di tanjung baik budi…

betapa lega rasanya setelah passing pulau sempadi, karena setelahnya kita bisa terbang menyusuri jalan raya dan perkampungan…segera setelahnya saya keluarkan capuccino kotak yang sudah saya persiapkan sebelumnya! betapa nikmatnya merasakan capuccino di antara awan-awan yang menerjang di ketinggian 3000 feet! setelah melewati tanjung baik budi, saya lampiaskan ketegangan dengan bermain2 dengan awan! terobos sana terobos sini, saya coba naik melewatinya, lalu turun lagi untuk menabraknya….sampai akhirnya tak terasa, di gps sudah menunjukkan angka 9 km remain menuju airbase di sungai awan, ketapang…karena langit di sekitarnya merupakan wilayah kami tempat biasa bermain2, saya coba climb sampai 4000 feet-disamping angin sudah mulai kencang di ketinggian 2000 feet ke bawah-beberapa menit berlalu, akhirnya runway insight! saya turunkan ketinggian dengan idle rpm-sekaligus memberikan surprise dengan bos yang sudah menunggu di runway-sampai akhirnya pada posisi long final runway 11 sei awan…walaupun angin sudah mulai deras menerpa, tapi setidaknya tetap headwind! “cabin crew, please take your landing position!” jam 09.50 kami landing dengan selamat, setelah perjalanan mendebarkan selama 2 jam 15 menit dengan bahan bakar terpakai hanya 30 liter! happy landing, cap!

jadi, jika anda melakukan perjalanan dari pontianak ke ketapang dengan menggunakan trike, modalnya hanya sekitar 500 ribu rupiah untuk 2 orang plus tambahan nyali yang cukup tentunya 🙂

first solo flight (trike) October 10, 2006

Posted by franky in terbang.
Tags: , , , ,
121 comments

Pertengahan 2003. Anwar Permana, dia lah yang kali pertama mengenalkan “terbang”, baik dengan paragliding, paramotor, paratrike (“becak” bermotor dan berparasut), lalu trike. Trike sebetulnya merupakan modifikasi dari hang glider yang dilengkapi engine, selanjutnya dalam penyempurnaan sekarang, sudah dilengkapi dengan cockpit mewah dengan berbagai instrumen canggih…Jenis trike juga bermacam2 tergantung engine dan wing. Dari engine 2tax 400an cc, 503 cc, 582cc sampai engine 4tax 912cc. Wing pun beraneka jenis, dari wing pelan, intermediate, sampai wing yang buat ngebut. Pada tahun ini, saya baru mencoba bonceng saja dengan Kang Anwar, dengan trike Cosmos 503 wing pelan. Pikiran di benak saya waktu itu, kapan gilirannya saya yang duduk di depan, alias menjadi “pilot”nya.

Januari 2004. Lido. Rudolf Lenzun. Dia lah yang pertama kali mengajarkan saya bagaimana terbang dengan trike. (Trike yang dipakai adalah milik kantor Taman Nasional Gunung Palung tempat saya kerja, yang punya rencana untuk melakukan monitoring kawasan dan patroli dari udara dengan menggunakan pesawat nyamuk tersebut!). Hampir sebulan setengah saya belajar, baik ground school maupun terbang di bawah bimbingan Pak Dolf yang perfeksionis. Biasanya latihan dimulai dari jam 5.30 pagi (rasanya malas banget harus bangun pagi, mandi, dan berangkat ke runway dalam dinginnya udara di Lido). Waktu ini dipilih karena pada jam2 tersebut angin belum bertiup, kondisi ini sangat cocok buat pemula yang baru belajar terbang dengan trike. Dari taxing, posisi line up, ready for take off, climb, terbang straight and level, descend, turn left/right, U-turn, ambil posisi base leg, on final, sampai touch down dan landing. Kemudian simulasi engine-off, emergency landing, dan forced landing. Sampe 20 jam terbang saya belajar (sekitar 1 bulan), kapan saya akan terbang solo, tanpa instruktur yang duduk di belakang.
Bagian paling sulit belajar terbang adalah landing! Jadi kriterianya jika pilot sudah diperkenankan bisa terbang solo adalah dari 10 kali landing, maka 10 kali pula harus sempurna landing alias 100%! Yaa, dunia terbang memang harus mengutamakan kesempurnaan…
Pernah suatu saat saya merasa sudah siap untuk terbang solo, tetapi gara2 malam harinya tidak bisa tidur karena sakit perut, besok pagi dipaksain untuk training, tanpa memberitahu instruktur kalo saya kurang tidur…Walhasil, begitu latihan, bukannya bertambah bagus, malah jadi kacau…Artinya, saya tidak jadi terbang solo hari itu, malah disuruh nambah jam terbang lagi!! Gara2 hanya kurang tidur…Siapapun pilot yg kurang tidur, tidak dibolehkan terbang, karena akan berpengaruh pada respon otak yg jadi sedikit telat, termasuk pilot pesawat nyamuk sekalipun!
3 maret! sore hari…saat yang ditunggu2 pun tiba…cuaca clear&friendly…akhirnya pak dolf menyuruh saya terbang solo! waaaaaah….grogi juga….ternyata berbeda sekali pada saat terbang sendiri dibandingkan berdua penumpang di belakang…apalagi berat saya yg cuma 56 kilo! padahal di manual, minimal berat pilot harus 65 kilo! hasilnya baru beberapa meter take off, itu pesawat sudah airborne saking ringannya….waaaaah…deg2an pertamanya….namanya juga baru bisa terbang solo…dan saat yg paling mendebarkan adalah pada saat landingnya…pilot pesawat apa pun, terbang berapa lama pun, yang penting adalah landingnya! dan akhirnya, setelah ambil posisi base leg, long final, descend, luruskan pesawat ke runway, sampai akhirnya touch down di runway dengan mulus! wiiiis mantep pokoknya…ngga cukup sekali, itu harus dicoba berkali2…karena kondisi cuaca, akhirnya saya hanya bisa mencoba 3 kali take off/landing. Seminggu setelahnya ditambah lah jam terbang di Lido, intinya, walaupun sudah bisa terbang solo, tetapi bagi saya tetap memacu adrenalin! Kenikmatan seorang pilot adalah pada saat setelah happy landing! Lalu tiba lah saatnya pesawat harus di packing, untuk segera dibawa ke Ketapang, Kalbar dan saya juga harus segera meninggalkan Lido untuk kembali melaksanakan tugas…Bravo, for first solo flight!