jump to navigation

kuching, bersih tapi mahal?! May 1, 2008

Posted by franky in jalan-jalan.
add a comment

Kali ini, saya akan coba cerita mengenai Kuching-Sarawak, karena kebetulan saya diberi tugas untuk mengikuti International Conference- Towards Sustainable Land-use in Tropical Area yang diselenggarakan oleh ATBC (The Association for Tropical Biology and Conservation). Konferensi ini berlangsung dari tanggal 23-26 April 2008. Sebetulnya ini merupakan kali kedua saya menginjakkan ibukota Sarawak, Malaysia ini. Dan walaupun saya merupakan staf Ditjen PHKA Dephut, tapi dalam konferensi ini saya justru mewakili ‘almamater’ saya, alias University of Tsukuba, Japan karena sesuatu dan lain hal.

Sengaja saya mencapai Kuching via Pontianak dengan bus malam eksekutif-Rp. 140.000. Selain murah, juga tidak perlu bayar fiskal-Rp. 1 juta dan juga dokumen lainnya jika menggunakan paspor biru. Setelah urusan imigrasi, saya tiba di perbatasan Entikong-Tebedu pukul 5.00 pagi 23 April 2008. Kesan pertama, saya banyak tersenyum membaca information board yang tertempel di sekitar Jawatan Imigresen Tebedu tersebut. Sebagai contoh: “dilarang membuang puntung rokok merata-rata”, “tandas awam” untuk toilet umum, serta “tempat letak kereta” untuk parkir mobil. Hehehehe…walaupun sudah lama tinggal di Kalimantan Barat yang mayoritas berbahasa Melayu, masih saja terasa aneh.

Dari sejarahnya, memang kota Kuching berasal dari kata kucing, dan memang kabarnya dulu di kota ini banyak kucing. Silahkan di googling sendiri untuk urusan ini. Yang jelas, jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, Kuching jauh lebih bersih (atau karena penduduknya tidak terlalu banyak ya?). Dan untuk urusan pariwisata, sepertinya sudah selangkah lebih maju dibandingkan dengan Indonesia. Walaupun, fasilitas dan living-cost rasanya lebih mahal jika dibandingkan dengan Jakarta sekalipun! Keindahan kotanya?? biasa saja…malah justru kota-kota besar di Indonesia masih lebih modern dan berkelas untuk urusan bangunan, fasilitas, mall, dan lain2nya. Atau saya terlalu nasionalis, sehingga tidak terlalu berkesan dengan kunjungan saya ke Kuching. Yang jelas menang bersih dan tidak semrawut! Lain-lainnya biasa saja! Kapan orang Indonesia belajar untuk bisa lebih bersih, atau harus dikurangi dulu penduduknya ya? mengingat Kuching hanya berpenduduk sekitar setengah juta jiwa sementara luasnya 4.500an km persegi!

Mengenai international conference nya, berlangsung di hotel Hilton, dengan jumlah peserta 180, dengan materi oral presentasi diikuti oleh 130 orang dan presentasi poster diikuti 44 peserta, termasuk saya. Dan sebagian besar yang datang adalah researcher, baik graduate student, maupun para doktor dan profesor yang ahli di bidangnya. Kali ini seperti biasa, Jepang hadir dengan jumlah terbesar dan full team (aaah…Jepang memang selalu perfeksionis!), sebagian besar dari Kyoto University.

Poster saya sendiri bisa diliat disini. Dan pada malam terakhir, farewell dinner, begitu diumumkan, poster saya mendapat Best Award on Poster Paper. Surprise aja…dan, well…bukan apa-apa, walaupun saya mewakili University of Tsukuba, tetapi originally from Indonesiah. Banyak yang tidak mengira, karena walaupun dalam konferensi tersebut yang dibahas tentang tropical forest, tetapi hampir tidak ada orang Indonesia yang presentasi tentang riset atau publikasi ilmiah yang telah dicapainya. Aaah, sekali lagi saya kecewa sekaligus bangga! Kecewa, karena sebagian besar orang Indonesia hanya jago kandang-termasuk researcher nya, bangga karena saya mendapatkan penghargaan terbaik untuk sesi poster presentation. But, anyway, congrat! Tidak sia-sia saya begadang semaleman buat poster dan kasak kusuk ke Subur Printing atas rekomendasi seorang teman. Akhirnya…menang! Vini Vidi Vici! 🙂

Advertisements

ski, siapa takut?? February 29, 2008

Posted by franky in jalan-jalan.
Tags: , , ,
3 comments

Kali kedua musim dingin di Tsukuba yang minim salju. Secara kebetulan, lab kami mengadakan trip ke Fukushima-ken, tepatnya di Inawashiro dengan tujuan utama main ski, atau lebih tepatnya belajar main ski. Karena pada kenyataannya baru kali kedua ini lah saya akan mencoba ski lagi, setelah sebelumnya mencoba untuk pertama kalinya di Naeba, Niigata-ken dengan teman2 Indonesia. Walaupun kali pertama belajar ski bukan pengalaman yang mengasyikkan, tapi siapa takut? Kebetulan beberapa teman satu lab yang kebanyakan orang Jepang, sudah terbiasa ski-minimal akan lebih banyak ‘instruktur’nya.

17 Februari 2008, 06.30 kami bersiap2 berangkat di tengah udara dingin Tsukuba sekitar 12 derajat Celcius. Peralatan ski sebelumnya sudah dipinjam dari universitas tanpa biaya apa pun! Walaupun tanpa gogel, sarung tangan, atau pun pakaiannya. Saya sendiri hanya bermodalkan sun-glass biasa, sarung tangan biasa, raincoat dan celana yang bukan khusus untuk di salju. Tentunya dengan persiapan dobel, karena pastinya suhunya minus. Kali ini rombongan lab berjumlah 11 orang termasuk profesor saya dengan menggunakan 2 buah mobil. Sekitar setengah 12 kami sampai di lokasi, Minowa Ski Resort-Inawashiro, setelah sebelumnya ikut bantu pasang rantai di ban, mengingat semua jalan menuju lokasi tertutup salju. Sampai di lokasi, ngga nyangka, rupanya kita langsung ganti kostum dalam mobil, pakai sepatu ski, di tempat parkir. Wuih dingin banget pastinya, karena di arloji saya menunjukkan -5 derajat Celcius. Belum bermain, kaki rasanya sudah perih, padahal sudah pakai kaos kaki dobel, begitu juga tangan. Dengan sepatu ski, kita berjalan menuju lokasi course, setelah sebelumnya menyantap makan siang dengan menu kare.

Sampai course pemula, saya hanya berkesempatan sekali untuk mencoba beradaptasi dan melakukan pemanasan. Bagaimana cara berjalan dengan papan ski menuju lokasi yang lebih tinggi, bagaimana meluncur, kemudian mengerem, dan bagaimana caranya bangun dan berdiri jika kita jatuh. Bukan apa2, tempatnya masih landai, jadi rasanya tidak terlalu sulit. Baru sekali mencoba, saya sudah diajak naik lift (gondola) untuk menuju course yang sesungguhnya. Walaaaah….untuk melihat track ke bawah saja rasanya sudah membayangkan bagaimana ngerinya. Tapi it’s ok! Seorang teman mengawasi saya, apakah sudah benar untuk melakukan start, meluncur dengan posisi papan membentuk huruf V terbalik, bangun dari jatuh, berdiri, dan bagaimana caranya tetap diam berdiri di atas papan ski yang licin, di track yang kemiringannya mungkin lebih dari 20%. Semuanya ok! hanya saja pada saat sudah meluncur, rupanya tidak mudah untuk memperlambat kecepatan atau mengerem! Wisss, pikiran saya, pada saat meluncur dan ngga bisa berhenti, pokoknya saya jatuhkan diri saja laah! Entah berapa puluh kali saya jatuh, yang untungnya tidak cedera! Ya, hari pertama dipenuhi oleh jatuh dan jatuh. Karena hanya itu lah satu2nya cara untuk berhenti, sementara tekniknya saya belum mengerti! Memang nekad!

Saya menyerah karena kedinginan. Soalnya butiran salju banyak masuk sampai ke dalam baju, sepatu, dan sarung tangan gara2 terlalu sering jatuh. Lewat jam 2 siang, saya memutuskan untuk istirahat setelah mungkin belasan kali bolak balik naik ke course dengan gondola. Secangkir kopi dan beberapa batang rokok akhirnya bisa mengurangi rasa dingin. Setelahnya saya sempat coba 2 kali naik dan meluncur, walaupun dengan hasil yang lebih parah, alias lebih banyak jatuh karena tenaga rasanya sudah habis! Setelah 2 kali mencoba dengan hasil yang tidak lebih bagus, saya benar2 menyerah! Tsukaretta!

Hari pertama selesai, dan diakhiri dengan mandi berendam di onsen sore harinya, makan malam khas Jepang dengan suasana hangat dengan tambahan karaoke. Saya berpikir, besok harus sudah bisa cara bermain ski dengan benar! Ya, besoknya kita start setengah 10. Seorang teman Jepang yang sudah expert mengajari saya bagaimana cara belok ke kanan dan ke kiri. Karena itulah intinya bermain ski, dengan berbelok sajalah kita bisa memperlambat luncuran, tidak hanya meluncur lurus dengan percepatan yang bertambah, dan kesulitan pada saat berhenti. Dengan menggunakan bahasa Jepang, Inggris, dan sedikit terjemahan Bahasa Indonesia oleh seorang teman, saya dikasih instruksi2 dan teknik2nya, sampai akhirnya saya dapat ‘slah’nya: bagaimana kita menumpukan titik berat badan kita agar bisa belok dengan keadaan tetap setimbang, bagaimana tekanan pada kedua lutut, kaki dan jempol, dan posisi berdiri dengan badan yang condong ke depan pada saat meluncur. Itu saja! Sedikit2 saya mencoba, dan akhirnya saya bisa, dan ketagihan bolak balik naik lift untuk naik dan meluncur turun. Kali ini tentunya tanpa jatuh dan pastinya dilakukan dengan teknik yang benar pada saat meluncur, yaitu harus belok kanan-belok kiri. Sampai melewati track yang pada hari pertama bikin trauma (tikungan dengan kelerengan yang cukup curam) pun bisa saya lewati dengan mudah! Waaah, rasanya saya ketagihan…karena saking asiknya, ternyata sudah melewati waktu yang sudah disepakati untuk istirahat, berkumpul kembali dan makan siang…Herannya, saya sama sekali tidak merasa kedinginan, tetapi justru berkeringat! Kami sepakat untuk bermain ski sampai 1 jam ke depan (artinya ada tambahan waktu untuk dipakai 4 kali trip bolak balik ke intermediate course)

Satu pelajaran yang bisa diambil adalah: Jika kita ingin mencoba sesuatu, jika kita ingin belajar sesuatu, modal pertama adalah keberanian (walaupun bagi saya waktu itu, rasanya keberanian beda2 tipis dengan nekad! hehehe). Jangan lupa, jadikan kesulitan sebagai sebuah tantangan yang mengasyikkan. Gagal dan jatuh adalah resiko, asal kita mengerti bagaimana mengatasinya. Setelah keberanian ada, belajar teknik dan skill sih menyusul, bisa tidaknya tergantung proses kita belajar! Jago atau tidaknya, tergantung pada ketekunan pada saat kita belajar…Ibaratnya seperti mencoba bermain dan menamatkan sebuah game! Terbukti akhirnya, saya-yang berasal dari negara tropis, bisa menikmati asiknya bermain ski dengan benar.

Ya, siang itu diakhiri dengan makan siang dengan menu spesial soba yang sangat sedap dan penuh kehangatan…Kami pulang ke Tsukuba dengan banyak kenangan indah… Yatta! Otsukaresamadeshita!

Merahnya momiji dan romantisme Kyoto November 28, 2007

Posted by franky in jalan-jalan.
Tags: , ,
6 comments

Momiji

Kata orang, datanglah ke Kyoto jika ingin menikmati musim gugur di Jepang-a city with a thousand temple & shrine! Dan pastinya untuk menikmati merahnya momiji di setiap sudut kota. Atas tawaran profesor saya untuk mengisi liburan 3 hari di musim gugur ini, sekaligus tergiur rasa penasaran, akhirnya saya mengiyakan untuk pergi mengunjungi kota tradisional yang pernah menjadi pusat kekaisaran Jepang sampai tahun 1868 tersebut. Tentunya setelah kasak kusuk mencari informasi tentang Kyoto di internet-baik hotspot-hotspot menarik, aksesibilitas, sistem kunjungan, dan fasilitas/atraksi yang tersedia. Bantuan seorang teman Indonesia-yang kebetulan kuliah di Rits University, Kyoto-juga sangat berguna untuk keperluan reservasi beberapa lokasi yang akan dikunjungi (untuk hal daftar mendaftar, reservasi, booking, rasanya menjadi menu wajib di Jepang-artinya tidak ada sesuatu yang dadakan). Ya, ini demi kenyamanan kita sendiri. Apalagi, beberapa lokasi memang dibuka secara terbatas, seperti Imperial Palace dan beberapa villa kekaisaran Jepang.

Hari pertama, sebelum ke Kyoto Imperial Palace (sesuai reservasi, kita dapat jatah jam 10.00), kita sempat mengunjungi Shin ‘nyo Do, salah satu kuil yang penuh dengan momiji, yang kabarnya dibangun sejak tahun 984. Puas menikmati momiji, perjalanan berlanjut ke Kyoto Imperial Palace yang lokasinya di pusat kota Kyoto. Ada pengalaman menarik, di sini saya sempat dibentak oleh penjaga istana gara-gara minta tambah 1 orang lagi untuk mengunjungi istana ini. Kebetulan teman dari Kobe datang, dan berniat bergabung, walaupun pada saat reservasi hanya didaftarkan untuk 4 orang saja. Hhhh…busyeet…bener-bener disiplin niih penjaga. Setelah sempat jalan ke Arashiyama dengan one day bus ticket disambung dengan Randen, selanjutnya sesuai reservasi juga, perjalanan diteruskan ke Shugakuin Imperial Villa, salah satu vila kekaisaran Jepang, yang pemandangannya waaaah…indah, bersih, sunyi, harmonis, dan romantis tentunya-mungkin karena lighting matahari banyak terpantul oleh merahnya daun momiji. Pokoknya pemandangannya seperti dalam kalender-kalender. Momiji memerah di setiap sudut berbaur dengan pohon evergreen yang lain dengan danau buatan (atau sungai??) yang memantulkan keindahan tersebut, serta jembatan kuno seperti dalam film-film silat China. Ya, harmoni dalam artificiality and nature! Satu hal yang bikin kagum: maintenance! Nyaris sempurna.

Shugakuin Imperial Villa

Hari kedua, kita berkunjung ke Golden Temple (Kinkakuji), terletak di barat laut Kyoto yang merupakan salah satu ikon kota Kyoto. Kuil ini berada di tengah danau kecil yang tamannya tertata dengan indah. Konon, kuil ini dibangun pada akhir abad ke-12. Untuk masuk ke komplek wisata ini kita harus membayar 400-en, tanpa reservasi. Sayangnya, mengingat terkenalnya kuil ini, maka hampir selalu penuh dikunjungi wisatawan sehingga sangat susah untuk mencari lokasi untuk berfoto dengan angle yang tepat. (Sekedar rekomendasi, pada saat musim gugur, datanglah lebih pagi untuk mendapatkan pencahayaan yang sempurna jika ingin memotret, ditambah kemungkinan besar masih sepi). Gara-gara sudah mengunjungi kuil ini, maka kita “tidak tertarik lagi” untuk mengunjungi Silver Pavilion (Ginkakuji) yang terletak di timur Kyoto. “Kalo sudah mendapat emas, buat apa lagi melihat perak?”

Kinkakuji in harmony

Setelah makan nishin-soba, kita meneruskan perjalanan ke timur Kyoto, tujuan utamanya ke Kiyomizu-dera. Walaupun dalam perjalanan menuju kuil tersebut sempat mampir ke Chionin Temple dan beberapa tempat lainnya. Dan membludaknya pengunjung, sempat membuat macet perjalanan menuju kuil ini.  Mungkin karena lokasi kuil tersebut berada di lokasi yang strategis yaitu berada di atas bukit di timur Kyoto, sehingga dari kuil ini bisa terlihat city-scape kota Kyoto.

Yaa, tidak cukup waktu 2 hari untuk mengunjungi tempat wisata di Kyoto, tidak cukup untuk dituliskan disini, keindahan lokasi-lokasi wisata di Kyoto. Satu hal yang perlu diingat, sebagian besar masyarakat Jepang di kota ini masih ramah, hangat, santai, dan tidak sesibuk seperti terlihat di Tokyo dan kota besar lainnya di Jepang-mungkin karena kota ini bukan merupakan kota industri yang hi-tech, tetapi kota tradisional sekaligus kota wisata yang masih penuh dengan kehangatan, walaupun kelihatannya semuanya jadi lebih mahal. Oya, satu hal lagi, cewek-ceweknya juga kelihatan lebih cantik dan modis! 🙂 Aah…