jump to navigation

Kayu Haram Jadi Halal December 4, 2007

Posted by franky in hutan&lingkungan.
trackback

Malaysia yang mengaku sebagai negara Islam ternyata berambigu jika sudah menyangkut devisa. Ya, Malaysia merupakan pengekspor timber terbesar di dunia! Hebat kan? Padahal, semuanya tau, bahwa luas hutan di Malaysia belum ada apa-apanya jika dibanding dengan luas hutan di Indonesia. Pun, jika kebun sawit dianggap sebagai hutan oleh Malaysia, tetap saja luasannya masih jauh dari menyamai luas hutan di Indonesia. Asumsinya, semua bentuk timber sumbernya adalah dari sebatang pohon, yang berdiri di dalam hutan kan? Nyatanya, kayu haram dari Indonesia pun bisa menjadi halal di negeri jiran tersebut. Malah berganti cap menjadi ‘produksi’ Malaysia (Analoginya: halalkah sebuah barang jika kita beli dari hasil curian?). Memang kasus illegal logging di Indonesia masih menjadi permasalahan besar seperti lingkaran setan, masih belum sempurnanya sistem hukum, pengelolaan hutan yang belum berpihak pada masyarakat, ataupun memang kelemahan pemerintah kita yang sebagian masih korup, dan berbagai aspek lainnya. (Anggaplah hal tersebut menjadi masalah dan urusan Indonesia), dan pertanyaannya tetap saja: mengapa Malaysia mau membeli kayu haram dari Indonesia? Bukan hanya membeli, tetapi sebagian cukong dan otak illegal logging di Indonesia pun berwarganegara Malaysia bukan hanya yang di Kalimantan, bahkan sampai Papua pun.

Tersebutlah sebuah pelabuhan yang menjadi tempat bertransaksi dan tempat penampungan kayu-kayu illegal dari Indonesia di Sematan, Serawak. Di pelabuhan tersebut hampir sebagian besar kayu-kayu illegal dari Kalimantan dibeli dan ditampung oleh sebuah perusahaan BUMN yang bernama Hardwood Timber Sdn.Bhd. Hebatnya setelah kayu-kayu illegal memasuki wilayah perairan mereka, justru mendapat kawalan dari aparat keamanan. Selanjutnya kayu-kayu haram tersebut didistribusikan ke berbagai sawmill untuk diolah dan kemudian diekspor.

Aaaah…jangankan kayu-yang jelas-jelas bisa diekspor-bahkan kesenian kita pun dibajak diaku, lagu, tari, batik, alat musik, makanan. Dan satu hal lagi saya yakin juga, bahwa untuk urusan hiburan, entertainment, program televisi atau lagu pun mereka lebih menyukai produk Indonesia. Mungkin untuk sebagian hal saya sepakat, bahwa Malaysia memang berasal dari rumpun yang sama, akar budaya yang sama, bahkan beberapa suku asli Indonesia pun sudah berabad abad tinggal di sana. Tetapi apakah dengan persamaan latar belakang tersebut lantas mereka berhak mengklaim sebuah produk menjadi asli Malaysia? Kita tidak pernah mengklaim bahwa karet adalah tanaman asli Indonesia, walaupun sudah sangat lama tumbuh di negara kita, tetap saja karet dari Brasil. Atau tetap saja cerita Ramayana dan Shinta kita akui berasal dari India, walaupun sudah berabad-abad menghiasi cerita perwayangan kita. Tambah lagi, Suriname tidak pernah mengklaim, kalau Bahasa Jawa dan budayanya adalah produk Suriname-hanya gara-gara sebagian besar warganegara Suriname berasal dari Jawa. Jadi sebetulnya, apa mau mu Malaysia? Kelebihanmu hanya satu saja, bahwa dulu dijajah Inggris-bukan dijajah Portugis, Belanda, dan Jepang…Aah, Malaysia memang hebat!

 

20.50: A-lima kosong dua, habis zemi.

Comments»

1. febri diansyah - February 18, 2008

Teman,
jika tidak keberatan, semoga tidak keberatan jika blog ini saya link kan.
Saya sedang belajar tentang Illegal Logging.

Salam,

febridiansyah.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: