jump to navigation

Kochi, Yosakoi, Romen-densha, dan keramahan orang-orang tua July 4, 2007

Posted by franky in japanology.
Tags: , , ,
trackback

Kochi (高知)-sepintas mirip dengan nama kota di negara bagian Kerala di India-salah satu kota di Jepang yang telah saya kunjungi tanggal 15-17 Juli, kebetulan saya harus presentasi di Nettai Seitai Gakkai (熱帯生態学会)atau The Japan Society of Tropical Ecology Seminar 17th (JASTE). Kochi berada di Pulau Shikoku di sebelah tenggara Jepang. Shikoku (四国) arti harafiahnya empat provinsi, dan memang di pulau terkecil di Jepang ini terdapat empat perfecture, yaitu: Ehime, Kagawa, Kochi, dan Tokushima. Mengingat wilayahnya berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik, maka di kota ini sangat populer dengan sashimi nya…Hampir di setiap restoran menyediakan menu ini. Dan karena pulau Shikoku terpisah dengan Pulau Honshu, maka masih sangat kental suasana ruralnya, tidak seperti di daerah Kanto atau Kansai pada umumnya. Kita tidak perlu kuatir bertanya sesuatu kepada penduduknya-khususnya orang-orang tua-karena akan dijawab dengan ramah dan terbuka. Ya, inilah kesan pertama sewaktu pertama kali mengunjungi kota ini. Orang tua nya baik-baik! Kesan kedua adalah, masih terdapat trem listrik yang berjalan di jalan raya. Orang Jepang menyebutnya romen-densha (路面電車)atau arti harafiahnya kereta yang berjalan di jalan raya! Waah, pokoknya gabungan antara unsur tradisional dan moderen masih terasa. Dan ampuun, kereta ini jalannya jauh dari kenceng (mungkin mengingat keamanan, karena jalurnya berada di jalan raya). Jangan lupa, jika anda mengunjungi kota ini, sempatkanlah jalan-jalan ke downtown nya seperti ke Obiyamachi, Harimaya-bashi, dan jangan sampai terlupakan adalah Kochi-jo, salah satu castle yang masih berdiri lengkap dengan bentengnya. Konon castle ini dibangun sejak tahun 1600-an pada saat masih jaman samurai dulu, walaupun sempat dipugar pada tahun 1948-1959. Kochi juga terkenal dengan festival musim panasnya yang bernama Yosakoi (よさこい). Yang menjadikan tarian ini khas adalah mengingat para penarinya memegang instrumen yang terbuat dari kayu seperti gambar di atas.

Sayangnya, mengingat hanya 3 hari saja, jadi saya tidak sempat untuk mengunjungi tempat-tempat lain seperti aquarium di Katsurahama, gua di Ryugado, ataupun berwisata di pantainya yang berhadapan dengan Samudra Pasifik.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: