jump to navigation

“kampanye hitam” hutan indonesia June 6, 2007

Posted by franky in hutan&lingkungan.
Tags: , , ,
trackback

Tulisan di bawah sengaja saya copy dari surat PERSAKI Nomor: 53/Persaki/IM/05/2007 tanggal 29 Mei 2007 Perihal Tanggapan PERSAKI dalam Kampanye Hitam Indonesia sebagai perusak hutan terbesar di dunia. Ya, memang, orang membayangkan kata deforestasi adalah kondisi hutan yang hancur, gundul, dan terdegradasi. Bisa saja, deforestasi di Indonesia tidak separah yg dibayangkan orang. Kadang-kadang kita terlalu meng-generalisir hasil2 penelitian para scientist tanpa mempertimbangkan dasar2nya. Mereka yg meneliti pun sebagian besar waktunya lebih banyak dihabiskan di depan meja, ketimbang turun dan melihat di lapangan. Memang terdapat kerusakan hutan yang sangat parah di beberapa tempat, tetapi, beberapa hutan yg sudah diklaim mengalami degradasi pun-tetapi kondisinya tidak terlalu parah, juga banyak. Analoginya, hutan yg sudah dikatakan terdegradasi di Indonesia, bisa jadi mempunyai kerapatan kanopi dan biodiversitas lebih tinggi dibanding hutan-hutan homogen di Eropa atau pun taman nasional di Amerika sekali pun. Tetapi, kita tidak boleh berdiam diri, harus ada yg dilakukan, tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas masing2 orang yang peduli, ditambah kemuliaan akhlak dan wawasan kebangsaan untuk selalu obyektif dalam berpikir. Kadang-kadang bekerja secara nyata dengan scoupe kecil memang jauh lebih baik daripada terus memikirkan hal-hal besar yang tidak ada good impact bagi orang lain. Semoga bermanfaat.


 

DATA BIAS DAN MEMPERMAINKAN ANGKA KERUSAKAN HUTAN

Wacana yang berkembang akhir-akhir ini untuk memojokkan (baca: menistakan) Indonesia sebagai penghancur hutan paling hebat di dunia terus bergulir tanpa perlawanan dan pencegahan yang berarti dari pihak Indonesia. Setelah sebelumnya Indonesia diumumkan sebagai penebar emisi karbon paling wahid nomor 3 setelah USA dan China, kini muncul wacana baru dengan memasukkan Indonesia sebagai penghancur hutan paling cepat di dunia ke dalam Guiness Book of World Record.

Adalah Green Peace, sebuah LSM Internasional yang konon tersohor dalam memperjuangkan issue lingkungan dengan berbagai tindakan yang heroik dan mendunia yang mengusulkan masuknya Indonesia ke dalam ‘MURI’ internasional tersebut. Ada apa di balik upaya Green Peace ini dan sejauh mana validitas angka yang dipakainya? Ini perlu dipahami agar kita dapat dengan jernih dan kepala dingin menanggapinya.

Paling tidak ada 3 hal yang perlu kita perhatikan dalam menanggapi upaya Green Peace ini. Pertama; mengenai kebenaran angka dalam penetapan rangking. Ke dua; ketulusan tujuan dan kepentingan dari pencantuman Indonesia dalam rekor dunia tersebut. Dan ke tiga; apa hikmah yang bisa diambil dari berkembangnya wacana ini bagi pengelolaan hutan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia?

KERANCUAN DEFINISI DEFORESTASI

Angka yang dipakai oleh Green Peace menggunakan istilah laju penghancuran hutan tercepat pada kurun waktu tertentu (2000 – 2005). Di dalam terminologi kehutanan, paling tidak yang dipahami oleh para rimbawan/forester di seluruh dunia, tidak ada istilah penghancuran hutan tetapi yang ada adalah deforestasi dan degradasi hutan. Secara sederhana, deforestasi adalah istilah untuk menyebutkan perubahan tutupan suatu wilayah dari berhutan menjadi tidak berhutan, artinya dari suatu wilayah yang sebelumnya berpenutupan tajuk berupa hutan (vegetasi pohon dengan kerapatan tertentu) menjadi bukan hutan (bukan vegetasi pohon atau bahkan tidak bervegetasi). Sedangkan degradasi hutan, atau penurunan kualitas hutan, dimaksudkan sebagai perubahan kondisi atau mutu hutan dari hutan alam atau hutan primer menjadi hutan bekas ditebang; atau dari hutan lebat menjadi hutan jarang/rawang. Artinya, pada istilah degradasi tutupan vegetasi tetap pohon; namun dengan kualitas yang berbeda. Kedua istilah tersebut sering dicampur aduk dan sering membingungkan.

Jika menilik angka yang dipakai dalam penetapan ranking Indonesia adalah angka deforestasi-sebesar 2.8 juta hektar per tahun-maka angka itu merupakan angka untuk periode 1997 – 2000 bukan 2000 – 2005. Angka ini menurut dokumen resmi Departemen Kehutanan (Dephut) merupakan angka deforestasi di dalam kawasan hutan dengan menggunakan citra sateIit Landsat resolusi spasial 30 meter sebagai sumber datanya. Sedangkan jika digabungkan dengan angka di luar kawasan hutan angka deforestasinya menjadi 3.5 juta hektar per tahun untuk periode tersebut. Perlu diingat, pada periode 1997 – 2000 ini terjadi kebakaran hebat di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, yang angkanya berkisar antara 4 – 9 juta ha (kembali tergantung kriteria dan metode pendugaan yang dipakai). Artinya, pada periode ini laju deforestasi memang amat besar angkanya.

VALIDITAS DATA DAN ANGKA

Angka resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan untuk periode 2000 – 2005 berbeda dengan angka yang dipakai oleh Green Peace. Dua angka yang dipakai sebagai pernyataan resmi Dephut untuk periode 2000 – 2005 adalah 1.08 juta hektar per tahun dan 0.72 juta per tahun. Angka yang pertama mendasarkan pada hasil desertasi karyawan Dephut DR Mulyanto Nugroho (Alm.). Angka yang ke dua merupakan hasil proyek kerja sama antara Dephut dengan SDSU (South Dakota State University, USA), University of Maryland, World Resources Institute (WRI) dan World Bank. Perbedaan angka pendugaan tersebut memang berbeda karena definisi hutan dan resolusi spasial citra (ketelitian citra) yang dipakai memang berbeda.

Angka pertama, 1.08 juta hektar per tahun, menggunakan definisi FAO yang menyatakan bahwa wilayah dengan penutupan vegetasi pohon lebih dari 10 persen dapat diklasifikasikan sebagai hutan. Sedangkan evaluasinya menggunakan citra satelit keluaran Eropa yang disebut SPOT Vegetation. Dengan menggunakan definisi yang dipakai oleh FAO dan menggunakan resolusi spasial citra 1000 meter – artinya satu piksel (picture element) mewakili keadaan lapangan 1 km x 1 km maka angka laju rata-rata deforestasi adalah 1.08 juta hektar/tahun.

MENGGUNAKAN DEFINISI UNICEF LEBIH FAIR

Angka yang ke dua, 0.72 juta hektar per tahun, menggunakan definisi hutan menurut UNICEF yang menyatakan bahwa hutan adalah kawasan yang lebih dari 60 persen wilayahnya ditutupi oleh vegetasi pohon. Dengan definisi ini dan menggunakan citra satelit yang diluncurkan oleh USA-disebut MODIS-dengan tingkat ketelitian per piksel adalah 500 meter x 500 meter (2 kali lipat ketelitian SPOT Vegetation di atas), maka ditemukan angka deforestasi yang lebih rendah, yaitu 0.72 juta hektar/tahun.

Dalam pernyataan resmi Departemen Kehutanan, ternyata angka yang lebih besar yang dipakai sebagai angka resmi adalah 1.08 juta hektar/tahun untuk periode 2000 – 2005. Tidak jelas alasannya kenapa Dephut tidak menggunakan angka yang lebih rendah, yang dihasilkan oleh proyek kerja sama Dephut dengan SDSU-Univ, Maryland-WR1 dan World Bank. Padahal, pemantauan deforestasi di Brasil, yang angkanya dipakai oleh Green Peace dalam penetapan rangking – menggunakan metode dan Citra Satelit MODIS USA ini. Maka secara ideal angka yang dipergunakan dari Indonesia seharusnya juga angka dari MODIS, bukan angka dari Landsat yang jelas-jelas mempunyai ketelitian jauh lebih detail (500 meter dibandingkan dengan 30 meter).

Semestinya, Green Peace dalam pemeringkatan ini menggunakan pembandingan apel dibandingkan dengan apel, bukan jeruk dibandingkan dengan nanas. Di sini kami memandang adanya ketidakjujuran dalam menggunakan angka atau boleh dikatakan mempermainkan angka.

STANDAR GANDA GREEN PEACE

Masalah ke dua adalah ketulusan dan kepentingan dalam melakukan pemeringkatan. Hal ini yang sering dipertanyakan oleh para pihak yang keberatan atas penistaan negeri tercinta yang akan masuk ke dalam ‘MURI’ internasional tersebut. Kelompok ini menganggap betapa penistaan itu sangat tendensius dan oleh karenanya muncul berbagai argument pembelaan. Misalnya; mengapa pemeringkatan dilakukan hanya untuk periode 2000 – 2005? Kalau mau jujur, Green Peace juga perlu mencantumkan angka deforestasi di Benua Eropa dan Amerika Utara pada seratus tahun yang lalu sebagai pembanding. Kemudian, kalau mau jujur angka yang dibandingkan untuk mengevaluasi Brazil dan Indonesia seharusnya menggunakan metode dan ketelitian Citra Satelit yang sama.

Hal serupa terjadi pada masuknya Indonesia sebagai penghasil emisi karbon ke tiga di dunia-dengan menggunakan periodisasi yang pendek. Kebetulan periodisasi yang dipakai adalah pada saat Indonesia mengalami kebakaran hutan. Padahal di USA dan Negara-negara G-8 secara terus menerus mengeluarkan emisi karbon dari industri dan kendaraan bermotornya hampir sepanjang abad hingga ke detik ini. Kondisi gawat inilah yang akhirnya menelurkan PROTOKOL KYOTO dan CDM-nya. Di sini maka kita perlu jeli melihat kejujuran dan kepentingan dalam pemeringkatan yang bias tersebut. Untuk kepentingan apakah sebenarnya penempatan Indonesia sebagai perusak hutan tertinggi dan sebagai penghasil emisi karbon tertinggi ke tiga?

HIKMAH BAGI BANGSA INDONESIA

Ke tiga, adakah hikmah yang bisa kita ambil dari wacana ini? Dewan Kehutanan Indonesia di dalam pernyataannya di Tabloid Agro Indonesia edisi tgl. 22-28 Mei 2007, menyatakan tidak tertarik untuk menanggapi upaya Green Peace tersebut karena tidak jelas tujuannya dan tidak memberikan solusi apa-apa bagi perbaikan pengelolaan hutan di Indonesia. Departemen Kehutanan selama ini juga belum melakukan upaya untuk menyangkal ataupun menolak pemeringkatan oleh Green Peace tersebut. Hanya di sana-sini muncul pernyataan pejabat yang bersifat defensif. Pernyataan kepala Badan Planologi Kehutanan dalam suratnya tertanggal 8 Mei 2007 seharusnya dapat dipakai oleh Departemen Kehutanan untuk melakukan klarifikasi kepada rakyat.

Sebagai pernyataan persatuan profesional di bidang kehutanan – PERSAKI – Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia; dengan memperhatikan argumen, kajian serta hasil-hasil perhitungan yang telah diuraikan di atas maka perlu disampaikan sebagai berikut:

Pertama; perlu nasionalisme dan kehati-hatian dalam mensikapi upaya memojokkan/penistaan terhadap negara besar berpenduduk terbesar no 4 di dunia yang saat ini sedang mengalami berbagai kesulitan, dari masalah politik sampai masalah yang muncul dari berbagai bencana alam. Penistaan yang kurang berdasar pada angka atau bahkan dengan mempermainkan angka dan/menggunakan standar ganda akan sangat merugikan dan menambah penderitaan rakyat Indonesia. Dan apakah memang ini tujuan penistaan tersebut? Perlu pula penghormatan kedaulatan dan kepentingan nasional, dimana dengan penduduk terbesar ke empat di dunia tidak mungkin bagi Indonesia untuk tidak merubah sebagian hutannya (deforestasi) secara terencana menjadi areal pertanian – termasuk perkebunan, infrastruktur, dan pemukiman.

Ke dua; jika Indonesia dicantumkan sebagai penghancur hutan paling hebat di dunia, adakah ketulusan dari negara maju-yang sebagian mendanai kegiatan Green Peace-untuk membantu Indonesia? Bukankah selama ini negara-negara kaya merupakan konsumen kayu tropis justru telah menikmati impor kayu antara lain dari Indonesia selama 30 tahun terakhir dengan harga sangat murah dan kurang peduli terhadap kelestariannya? Jadi sebenarnya negara-negara maju wajib untuk menunjukkan komitmen nyata dalam mengimplementasikan CDM dan Protokol Kyoto sesegera mungkin.

Ke tiga; hikmah positif dari wacana ini adalah adanya kesadaran akan perlunya Pemerintah, segenap stakeholder dan Rakyat Indonesia untuk duduk bersama dalam mengatasi masalah kerusakan hutan dan pengelolaan hutan yang tidak lestari. Jika penistaan itu terjadi, maka seharusnyalah sampai ke tingkat Presiden sekalipun harus bangkit dan melawan penistaan itu dengan tindakan yang taktis, setimpal dan nyata.

Semoga, kita semua dapat mengambil hikmah dari upaya penistaan kepada bangsa dan negara kita untuk bangkit dan berjuang mengatasi berbagai kesulitan yang mengimpit kita sebagai bangsa yang besar.

Comments»

1. wanto - July 24, 2008

selamatkan hutan kita dong !!

2. Yudi - December 1, 2008

Save our forests for our nations !

3. joni - February 10, 2009

hutan adalah nafas bagi kita

4. Engel - April 27, 2009

jaga hutan sebagai paru dunia. Jangan tebang hutang secara sembarangan, sebaiknya setiap insan menanam pohon dan pemerintahan perlu memberi ransangan kepada 20 penanam pohon dengan dana…..

5. angga prayoga - October 2, 2009

woi ………………jagtalah hutan indonesiaa……………….ayo para pemuda ………………….

6. sulistyani - November 29, 2009

titip untuk menjaga hutan Iindonesia, karena hutan indonesia adalah termasuk salah satu hutan yg terbesar di dunia…mari jaga bersama-sama


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: