jump to navigation

deforestasi dan revolusi May 12, 2007

Posted by franky in hutan&lingkungan.
Tags: , , ,
trackback

Hutan Indonesia pada taraf yang sangat mengkuatirkan, bayangkan saja Forest Watch Indonesia dan Global Forest Watch (2007) melaporkan bahwa deforestasi di Indonesia hampir mencapai 2 juta hektar per tahun! Kalo kita menelaah, penyebabnya sangat komplek dan saling berhubungan, laksana mata rantai setan! Kalo kata Geist and Lambin (2002) penyebab deforestasi mencakup proximate causes dan underlying causes. Bisa jadi-saking kompleksnya- di Indonesia masih banyak faktor yg lain lagi, dan pastinya bukan faktor ekonomi aja, seperti yang saya sangka sebelumnya…analoginya “bukan jaminan kan kalo orang sudah kaya dan makmur, terus tidak korupsi?” Buktinya korupsi yg besar2 justru lebih banyak dilakukan oleh orang2 kaya… Gus Dur jg pernah bilang, ketika dimintai komentar tentang Perda di Tangerang yg melarang pelacuran. Menurutnya membuat perda yg melarang prostitusi bukan prioritas utama, dengan kata lain bahwa prostitusi terjadi karena faktor ekonomi (untuk mencari makan), jadi prostitusi tidak bisa dihapuskan jika tidak ada peningkatan taraf hidup di kalangan pelakunya. Nyatanya prostitusi di kalangan orang2 berduit malah lebih profesional lagi dan ada pula yg justru gratis??, nyatanya untuk ini Gus Dur jg ngga 100% benar. Sebagai orang yg bekerja di lapangan, banyak juga kita dengar bahwa masyarakat sering mengklaim dan membuat jastifikasi kalo faktor ekonomi lah yg dijadikan alasan mereka untuk merambah hutan, termasuk menebang hutan. (mereka banyak bilang : “kalo ngga nebang kayu, nanti saya makan apa om?”). Rasanya belum cukup kita hanya mengandalkan instansi pemerintah seperti Dephut, Bappenas, KLH, atau kepolisian untuk menghilangkan proses penghancuran hutan kita. Sebagai contoh kasus, misalnya DPU bahu membahu dengan segenap instansi untuk membangun jalan di kawasan2 terpencil di Indonesia agar masyarakat bisa lebih menghargai pemerintahnya-dalam hal pemerataan pembangunan, lantas menjadikan mereka secara otomatis tidak tergantung dan mencuri kayu di hutan dan atau berladang di dalam kawasan konservasi. Jangan salah, pada satu sisi, pembangunan jalan dan fasilitas jg bisa menimbulkan hancurnya hutan lho, karena akan mendorong faktor urbanisasi yang masuk ke daerah tersebut, berkembangnya ekonomi skala mikro, pertumbuhan market yg pesat, peningkatan lapangan kerja dll…bukankah Bogor atau Bandung misalnya, dulu juga berupa hutan??

Jadi sekali lagi, faktor ekonomi yg bagus, bukan jaminan masyarakat sekitar hutan untuk tidak menebang dan merambah hutan. Beberapa penelitian menyatakan justru orang dengan penghasilan yg lebih besar lah yang lebih banyak menebang hutan atau merambah kawasan untuk berladang… karena modalnya lebih besar tooh?? Satu kesimpulan saya, mental masyarakat kita lah yg harus dibenahi…Sebelum ada globalisasi, kemajuan teknologi, industri, dan sistem ekonomi kapitalis, dulu, nenek moyang kita sangat menghargai alam, tetapi tetap fight dan tidak berpola pikir serba instan…Mungkin kita akan berkelit lagi, “waktu itu belum ada tv, belum ada listrik, blm ada pembangunan, blm ada mi instan, bla bla bla….Faktanya, globalisasi tidak menjadikan “semua” negara bisa menjadi lebih bagus….di sinilah letak kecurangan kapitalis!
Negara2 Amerika dan Eropa, termasuk juga Jepang, dulu juga mempunyai hutan yg bisa dibanggakan luasannya, tapi apa kata mereka sekarang setelah negara mereka sudah tidak lagi berhutan-tentang penyelamatan hutan tropis?? Sangat tidak fair kan? Lewat organisasi2nya mereka memberi “pinjaman” dengan proposal dari negara kita untuk menyelamatkan hutan tropis kita yg katanya paru2 dunia….Lantas, ditindak lanjuti misalnya oleh Dephut untuk melaksanakan proyek2 konservasi, atau justru menetapkan kawasan konservasi dan taman nasional, yg notabene demarkasi nya belum jelas, land tenure nya masih acak2an, atau bahkan kawasannya bekas HPH, dll….begitu SK Mentri turun, barulah konflik terjadi, karena di dalamnya sudah bermukim masyarakat adat yg tidak mau di-resettlement, sudah ada kawasan pertambangan, sudah ada jalan yang melintas di dlm kawasan, tumpang tindih dan konflik kepentingan dengan instansi lain, dll bla bla bla….Atau, keluarnya kebijakan untuk memperketat aturan ijin HPH (sementara di sisi lain negara menekan Dephut untuk menaikkan devisa dari sektor kehutanan?), dan konsesi pengusahaan hutan harus berupa HTI (hutan tanaman industri)….Logikanya, namanya HTI harusnya tanam dulu baru tebang…..Eeeh, nyatanya banyak ijin HTI yg konsesi nya di hutan alam! Alias tebang dulu baru tanam, ditanamnya dengan jenis fast growing species pula, seperti akasia misalnya, sementara yg ditebang jenis meranti yang perlu lebih dari limapuluhan tahun untuk menjadi besar…. Kesimpulannya, mana ada pengusaha yg mau rugi?? Harusnya HTI diberikan di kawasan2 yg terdegradasi, yang notabene akan sangat membantu Gerhan/GNRHL (Gerakan Rehabilitasi Lahan) yg sedang dikoar2kan pemerintah tooh?? Rasanya ini semacam akal2an aja….Ironis, padahal katanya negara kita banyak doktor dan profesor yg hebat2, atau yg kita perlukan adalah orang seperti Bill Gates yg bisa memenej sebuah perusahaan menjadi raksasa?

Memang untuk menyelamatkan negara kita (bukan cuma hutan, pen.) rasanya kita perlu sebuah “revolusi”….(walaupun untuk ini konsekuensinya sangat berat, darah!) untuk menjadi bangsa yg besar, pemimpin2 dan masyarakat kita sepertinya sudah tidak ada kemauan untuk berubah ke arah yg lebih baik, makanya tidak cukup hanya sekedar workshop, penyuluhan, pelatihan dan peningkatan ekonomi masyarakat (yg ujung2nya merujuk ke ekonomi kapitalis lagi pastinya), demarkasi dan tata batas kawasan (percuma aja, setelah tata batas jg teuteup, masyarakat akan klaim lahan mereka yg sudah digarap), atau pun sekedar mengeluarkan produk hukum dg jargon law enforcement dan peningkatan kapasitas kelembagaan, baik itu UU atau PP (di Indonesia hukum cuma jd “proyek” aja….mulai dari bargaining2 di tingkat DPR yg nyusun, hakim, jaksa, polisi, pengacara dan pengusaha), atau malah memberi bantuan ke masyarakat miskin, atau masyarakat sekitar hutan-yg kebanyakan konsepnya instan (lhaa, dikasih skill nya pun kalo masyarakat nya males yaa tetep aja ancur!). Semua upaya, akhirnya merujuk ke “proyek”, yg menyebabkan substansi nya (seperti yg tertulis dalam bagian “pendahuluan, latar belakang dan tujuan”) jadi hilaang semua….
Pada akhirnya, balik lagi ke : mental, kemauan, kerja keras, dan nasionalisme pastinya….
Pesimistis?? Atau perlu genocide, mungkin?? (heheheehe, terlalu ekstrem??)
Makanya bagi saya pribadi, biar kita tetap optimis, “sekecil apapun tindakan pelestarian terhadap alam, akan besar artinya bagi kelangsungan hidup umat manusia”
Jadi kita harus tetap berjuang, sambil menunggu datangnya pemimpin yg militan-cerdas-dan berakhlaq spesial untuk membawa perubahan itu sendiri ke arah yg lebih baik tentunya. Atau ada yg berani tampil untuk membuat sebuah revolusi?!

Ichinoya 31-804,
12 Mei 2007
(Menjelang akhir musim semi, di tengah kegalauan menulis rencana thesis)

Comments»

1. frankyzamzani - June 9, 2007

kapan negeriku akan berubah menjadi lebih baik? haruskah lagi ada yang dikorbankan? ataukah tetap “menunggu”??

2. ersa - June 11, 2007

menunggu?? mulai dari diri sendiri dong. dari hal kecil. dari sekarang.

Siap bos!

3. ikhlas - December 10, 2007

semoga hutan kita bisa bertahan dan ada hukuman yang sangat berat bagi pelaku ilegal loging. semoga berhasil dan teruskan…….

Thanks doanya…Andai saja semua orang berdoa seperti Mas, ditambah usaha-walaupun progresnya lambat, pasti hutan kita bisa bertahan…

4. Sri - April 17, 2008

Ikutan nambah daftar “penyakit” negara kita bos: egoisme sektoral, institusional, dan individual….

Kalo beda pendapat tapi saling respek sih gpp, itu malah fenomena mega-biodiversity…demo ne, kebanyakan kita malah stuck di posisi berantem mempertahankan ego masing2 sih, jadi kapan ada sinergisitas (meski wacana sinergi dll udah dipropagandakan sejak jaman dulu kala..)…Jadi bos Achille: mari kita sama2 pening mikirin bangsa kita YTC…

Betul kata mbak Ersa, dimulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan dari sekarang…tapii lagi…seperti halnya tanaman yang perlu perhatian, disiram dan sebagainya biar bisa tumbuh bagus, so, usaha dari diri sendiri itu mestinya juga akan tambah termotivasi kalo orang lain juga melakukan hal yang sama itu kan (maksudnya, mulai dari diri sendiri dst), nggak cuma selalu bilang: “dimulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dari sekarang…” tapi malah jadi lupa melakukan untuk diri sendiri…jadinya..malah nggak ada yang mulai-mulai…kalau bisa “kita mulai bareng2 yuk, dari hal kecil, dari sekarang…” kayaknya jadi memperingan beban di bahu dan mengurangi air mata duka melihat nasib bangsa (duile)…hehehe..

Just my humble tought..

sri
*di tengah kegalauan nulis the big T..huuuhhh…pilihan hidup…pilihan hidup*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: