jump to navigation

refleksi illegal logging October 9, 2006

Posted by franky in hutan&lingkungan.
Tags: , , ,
trackback

Pulau Kalimantan atau yang lebih mendunia dengan nama Borneo bisa kehilangan hutannya dalam satu dekade ke depan. Perusakan hutan yang dipicu penebangan pohon yang tak terkendali, kebakaran, dan pelanggaran batas perkebunan. Demikian peringatan yang dikeluarkan World Wide Fund (WWF). Dalam laporan bertajuk “Treasure Island at Risk” WWF menyatakan bahwa penggundulan hutan di pulau terbesar ketiga dunia itu akan membahayakan kelangsungan hidup orangutan karena potensi ekonomi yang besar. Diperkirakan pada 2020, populasi orangutan yang tersisa mungkin sangat terbatas dan berpindah keluar habitat aslinya. Organisasi pelestari lingkungan itu menyatakan bahwa temuannya sesuai dengan hasil penelitian Bank Dunia yang mengingatkan bahwa seluruh daerah hutan hujan tropis di Kalimantan yang menjadi bagian Indonesia bisa habis pada 2010. Selain itu, sisa hutan tropis di perbatasan Malaysia dan Brunei juga tidak jelas nasibnya. Hari ini, hanya setengah hutan Kalimantan yang masih tersisa, turun dari 75 persen pada pertengahan 1980. Sekitar 1,3 juta hektar hutan rusak setiap tahunnya. “Konsekuensi dari luasnya kerusakan tidak hanya memusnahkan berbagai jenis hewan, tapi juga memutus persediaan air, dan menurunkan peluang ekonomi di masa depan, seperti pariwisata dan keberadaan komunitas lokal,” kata Chris Elliot, Kepala WWF Global Forest Programme. Lebih dari 210 mamalia, terdiri atas 44 jenis yang tidak ada di belahan dunia lain, ditemukan di Kalimantan. Antara 1994-2004 sekitar 361 spesies ditemukan dan beberapa diantaranya baru pertama kali ditemukan. (Kompas, 6 Sept 2006)

Menhut mengatakan “Hingga saat ini, belum diketahui pasti jumlah kayu hasil pembalakan liar di Indonesia. Dephut dewasa ini memperkirakan 29,5 juta kubik kayu yang beredar per tahun berasal dari aktivitas pembalakan liar. Dari segi finansial, diperkirakan kerugian negara dari pembalakan liar sekitar Rp 83 miliar rupiah per hari, atau sekitar Rp 30 triliun per tahun”. Dalam upaya memberantas kejahatan pembalakan liar di Tanah Air, Menhut juga, pemerintah terus melakukan operasi represif untuk memberikan shock therapy trerhadap pelaku kejahatan kehutanan. Tindakan ini, sudah dapat dikategorikan sebagai kejahatan kehutanan terorganisir yang membahayakan kehidupan masyarakat. Masalahnya dalam upaya pemberantasan ini, banyak sekali terdapat konflik kepentingan yang melingkupi pelaksanaan operasi di lapangan dan proses hukumnya (Kompas, 21 April 2006). Bahkan tidak jarang, masyarakat kecil lah yang lebih dulu berteriak di kala operasi gencar dilakukan. Ada apa ini? Padahal mereka hanya mendapatkan sepersekian persen saja dari keuntungan para cukong kayu. Yang membuat prihatin, sampai kapan masyarakat kita sadar bahwa mereka hanya menjadi tumbal dari rakusnya si cukong kayu liar…

Di satu sisi Menhut sudah menabuh genderang perang terhadap pencurian kayu dan perdagangan kayu illegal di tanah air, di sisi lain, Dephut dituduh tidak mampu menguatkan sektor riil di bidang kehutanan. Masalahnya sektor riil di bidang kehutanan ini lebih banyak dihasilkan dari perdagangan kayu ilegal. Dephut bersama-sama Kepolisian Negara Republik Indonesia akhirnya masuk-keluar hutan melacak kejahatan terorganisasi tersebut. Namun, operasi ini bukannya tanpa efek negatif, yakni memunculkan peluang pungutan liar oleh oknum petugas. Pungutan itu sebagai imbalan atas “jasa baik” oknum petugas tersebut membantu mengeluarkan hasil tebangannya agar tak dituduh pelaku pencuri kayu. Data Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) menunjukkan, dari 120 perusahaan anggota Apkindo, kini tinggal 52 perusahaan yang masih bertahan. Itu pun kegiatan produksinya tidak lagi sampai 50 persen dari kapasitas terpasang. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan industri kehutanan, misalnya, merestrukturisasi mesin yang dipakai agar bisa mengolah kayu berdiameter kecil. Akan tetapi, langkah itu tetap saja tak mampu menyelamatkan industri kehutanan, yakni kayu lapis dan olahan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Agung Nugraha mengatakan, melemahnya kinerja industri kehutanan masih akan terus terjadi di masa-masa mendatang. Sulitnya bahan baku kayu bulat dan maraknya pungutan liar di lapangan menyebabkan pengusaha menanggung biaya produksi yang sangat tinggi. Sebenarnya, pemerintah sudah berusaha menyahuti jeritan pengusaha kehutanan akan kelangkaan bahan baku. Dephut telah menaikkan jatah produksi tebangan (JPT) dari 8,1 juta meter kubik di tahun 2006 menjadi 9,1 juta meter kubik di tahun 2007. Kekurangan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku rata-rata 45 juta meter kubik per tahun itu diharapkan bisa dipasok dari hutan produksi terbatas, hutan tanaman industri, dan hutan rakyat. Akan tetapi, kenaikan JPT ini ternyata belum memuaskan pengusaha. Pasalnya, masih ada faktor fundamental lain yang belum dituntaskan, yaitu pungutan liar. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan kayu tersebut, banyak kawasan konservasi yang akhirnya dijarah. Maraknya pencurian kayu di taman nasional sudah bukan merupakan barang baru lagi di negeri kita…Bahkan untuk rekonstruksi Aceh setelah tsunami pun, bahan baku kayunya diduga dari pembalakan liar, akibatnya laju deforestasi di Aceh pasca tsunami diperkirakan meningkat dua kali dari sebelumnya.

Kalau sudah begini, nampaknya menteri pun tidak bisa mikir lagi harus berbuat apa…Ini lah kesalahan fatal sistem pengelolaan hutan dari awal pemerintahan, yang akibatnya generasi mendatanglah yang harus menanggungnya. Sepertinya, masyarakat kita khususnya yang berada di sekitar hutan harus makmur dulu secara ekonomi. Yaa, kita harus tetap optimis, pada setiap upaya untuk menjadikan semuanya menjadi lebih baik. Pertanyaannya, apakah itu saja cukup??

(ingin tau tentang bagaimana monitoring kawasan hutan dengan pesawat nyamuk?? silahkan klik disini)

 

 

 

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: